not ditto

 

 

Tak sama…

Sungguh tak sama

Bangunan ini disebut dengan ungkapan yang sama, yaitu “ kampus”

Komunitas ini dikenal dengan sebutan yang sama, yaitu “mahasiswa”

Aktivitas ini dikatakan dengan istilah yang sama, yaitu “kuliah”

Orang-orang ini dipanggil dengan sapaan yang sama, yaitu “sahabat”

 

Tapi, tak sama

Sungguh, tak sama

Kampus yang tak sama

Mahasiswa yang tak sama

Kuliah yang tak sama

Sahabat-sahabat yang tak sama

 

Aku tak pernah bermaksud membandingkan

Sungguh, aku tak berani untuk itu

Karena aku hanya berani mengatakan, bahwa ini tak sama

Bahwa, terlalu banyak sudah hal baru yang ku temukan

Sungguh, tak lagi sama

Meski aku sendiripun tak tahu

Apakah akupun, sudah tak lagi sama…

 

Namun, satu dari yang ku yakin masih tetap sama

Kasih sayang dan curahan nikmat dariNya, masih tetap sama

Tetap sama, berlimpah tak terhingga…

PenyakitKronikItuBernamaLupa

“Manusia itu tempatnya khilaf, tempatnya salah”
Halaah, alasan saja itu

“Namanya manusia, wajar donk kalau lupa”
Hadeeh, lupa kok jadi hoby

“Maklumlah faktor umur, jadi mudah lupa”
Sok tua ah,nanti langsung tua beneran, kena deh.

Deg…jawaban-jawaban yang langsung menancap ke dalam hati.

Itulah alasan-alasan yang biasa saya lontarkan,bila telah berhasil melupakan lagi sesuatu hal.
Baik dengan diiringi perasaan bersalah, dan memasang wajah memelas karena telah terbukti bersalah, setidaknya mungkin masih lebih menyentuh hati, dibandingkan dengan para koruptor yang terhormat, begitu telah terbukti dan terdakwa bersalah, namun masih dengan self confidence yang tinggi sembari melambaikan tangan ala Putri Indonesia, dan berkata “terimakasih-terimakasih”

Ataupun ketika saya dengan polosnya sama sekali tanpa ada perasaan bersalah karena telah melupakan hal yang ternyata bagi orang lain dianggap tak pantas untuk dilupakan (tapi memang masih polos kok @_@)

Misalnya saja, ketika saya berhasil lupa dengan seluruh nomor telephone yang pernah saya ingat, seluruh nomor telephone ??

Helloo, bukankah seumur hidup ini, saya baru hanya mampu mengingat satu nomor, yaitu nomor saya sendiri, dan itupun tak jarang membuat saya sempat terdiam dan berpikir sejenak ketika akan mengisi pulsa dan diminta untuk menyebutkan nomor ponsel saya ‘_’! #%$&##$

Atau ketika saya ngotot-ngototan dengan mas penjaga parkir sebuah toko buku, karena menganggap dia tengah bercanda dengan menyembunyikan kunci motor saya yang tertinggal di kontak motor. Meski kenyataannya, kunci motor itu ternyata tertinggal di dekat computer pencari data buku di toko tersebut. @.@” dan saya sukses membuat mas penjaga parkir itu tersenyum meringgis (?)

sudah salah ngotot lagi  @.@”

OK.OK. Sekarang waktunya kita masuk ke dalam pembicaraan yang lebih serius, ini serius lho !!

Engkau tahu kawan, tentang efek bioakumulasi ??

minimal pernah dengar kan !!

Tidak juga ???

Baik..Baik…Saya beri bocoran sedikit. Efek bioakumulasi ialah efek yang bisa menimbulkan suatu penyakit kronik, yang disebabkan oleh eksposure (paparan) bahan berbahaya tertentu.
Penyakit kronik yang disebabkan oleh efek biakumulasi inilah, yang saat ini saya sadari seakan tengah menggerogoti salah-satu organ tubuh saya, organ tubuh itu ialah Otak.

Dan penyakit kronik itu bernama Syndrom demensia degeneratiif lobus fronto (darimana saya dapatkan kalimat ini???), saya sederhanakan saja nama penyakit ini menjadi PELUPA.
Parahnya lagi, ternyata saya menyadari, bahkan menikmati bahwa saya menjadi sangat terkenal diantara teman-teman saya, terutama teman-teman dekat saya , terkenal sebagai seorang penderita penyakit Lupa (Sungguh menyakitkan begitu menyadari, penyakit ini membuat saya merasa lebih tua dari usia saya yang sebenarnya)

Rasanya sudah terlalu banyak kasus yang menjadi menjadi barang bukti akan gejala ini. Supaya tidak penasaran saya beri contohnya. Tapi ingat, don’t try it at home !!!

Kasus pertama :
Adegan terjadi di pelataran sebuah masjid kampus di kota Surabaya, sesaat setelah selesainya acara taklim di masjid tersebut
Tampak dua orang gadis berpapasan di pelataran masjid, Seorang gadis berkerudung merah dan seorang lagi gadis manis berkerudung coklat yaitu saya *__*, menyadari bahwa mereka selesai mengikuti kegiatan yang sama, maka setelah hasil musyawarah akhirnya mereka memutuskan untuk berkenalan (lebay).

Gadis berkerudung merah : Assalammu’alaikum. Boleh kenalan, nama kamu sypa?

Saya : wa’alaikumsalam wr wb. Oh iya, nama saya Inoy Kalau nama kamu?

Gadis berkerudung merah : INOY ?
mungkin nama ini terdengar asing di telinganya, mungkin terdengar sangat unik, kalau tidak mau dikatakan aneh.

Saya : iya benar INOY (dengan sedikit nada penekanan), kalau kamu ?

Gadis berkerudung merah : Rosita. (sembari tersenyum manis)

Saya : waah bagus bener namanya, nama panggilan kesayangannya apa ya ? (sembari tersenyum lebar)
Sok akrab banget ya ^.^!

Gadis berkerudung merah : panggil aja Ros.

Saya : ooh, kalau saya panggil Sita boleh nggak? Biar beda gituh panggilannya..
Halah alasan, ini hanya alibi untuk menghindari penggunaan huruf R, karena saya sangat sadar bahwa salah-satu kelebihan saya ialah kurang fasih menyebutkan huruf R, yang kata orang sangat bagus untuk mengucapkan kalimat dalam bahasa inggris,he…

Rosita (sekarang kan sudah tahu namanya) : boleh, boleh…. (kembali sambil tersenyum manis)
Dan sayapun ikut tersenyum lebar (yes, alibi saya berhasil !!)

Baik kita persingkat, maka prosesi perkenalanpun berakhir.

Bergegas saya menuju tempat wudhu karena waktu shalat ashar sudah masuk.
Mendapati tempat wudhu yang kosong, hanya ada saya seorang, maka seusai berwudhu saya mematut diri di depan cermin, sedikit lama dan sedikit narsis, mumpung tidak ada orang.
Tidak lama berselang, masuk seorang gadis berkurudung merah. Dan begitu saling bertatapan saya langsung menyunggingkan senyum, untuk menutupi malu karena kepergok bergaya di depan cermin ^___^

Selintas saya seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya???

????

Auk ah gelap, LUPA.

Namun tiba-tiba, gadis itu justru bergumam “Aduuuuh” sembari jari telunjuknya menempel di dahi, dan wajahnya tampak tengah berpikir keras sembari terus menatap saya (ini tidak didramatisir lhoo)
Dari wajahnya seakan-akan menunjukkan dua hal,

Pertama : ia tengah berpikir sesuatu,

Kedua : ia tengah melihat sesuatu yang sangat aneh di wajah saya.

Dan malangnya hasil spekulasi sementara saya, justru lebih cenderung pada point kedua.

Saya :Kenapa, ada yang aneh ya di wajah saya? (sembari tetap tersenyum meski tingkat kemanisannya sudah berkurang #@&%^$# )

Gadis berkerudung merah : Bukan..Bukan..Tapi maaf yaa..saya lupa nama kamu tadi siapa ya? Ina ya? atau noni? atau Iin ? aduuh sekali lagi maaf ya, kok saya bisa lupa, siapa ya nama kamu ? maaf lho ya…

Uups ternyata hasil spekulasi saya salah, yang tepat justru point pertama. Ternyata ia tengah berpikir keras tentang saya. Alhamdulilah, masih lebih baik dari pada point kedua.

Parahnya, yang saya katakan saat itu ialah sesuatu yang keluar dari lubuk hati saya yang paling dalam, menunjukkan hal yang sebenar-benarnya, sama sekali tanpa ada dusta.

Sesuatu yang tampaknya hanya akan memperburuk suasana, memperkeruh air yang telah keruh, atau apapun istilahnya.

 

Saya : ooh jadi kita pernah kenalan ya ??? Dimana ?? Kapan ya ?? aduuh maaf ya, kok saya bisa lupa ya…

Tuing…Tuing….Gubrak…..

Dengan wajah sama sekali tanpa rasa bersalah @__@!

Bosan ya membacanya ?

Tidak apa-apa, saya tidak akan marah kok (?)

Tapi jangan lupa ya, bukan hanya dibaca tapi ambil hikmahnya
pertama : don’t try it at home, kedua : silahkan ambil sendiri hikmah lainnya (?)

Baiklah, ini kasus pertama, dan karena sepertinya kamu sudah bosan membacanya ,
maka, untuk kasus yang berikutnya saya sampaikan di lain waktu saja,

kalau saya tidak lupa….

Tanah Rantauku Tersayang, Tanah Halamanku Tercinta…

Saat hanya  tinggal 10.000 rupiah di kantong

Tak jarang, orang-orang yang tahu tentang beasiswa yang saya dapat akan mengatakan “ waah beruntung ya “ atau “enak ya” atau dalam bahasa yang lebih to the point “ enak donk kalau gitu tinggal terima duit tok”

OK, atas semua komentar itu saya katakan ” YA “

Kalian benar sekali, atas segala kebaikan dan kekurangan yang tentunya juga ada, selalu mampu membuat saya teringat dan menggumamkan firman Allah :

“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan” Sungguh atas itu semua, sedemikan saya rasakan bentuk limpahan nikmat dan curahan kasih sayang dari Allah. Betapa rasa syukur yang sungguh tak seberapa ini, justru berbalas nikmat yang sungguh tak terhingga dari Allah (aduh jadi malu….)

Tapi tahukah engkau duhai kawanku, inilah hidup, seperti perkataan orang-orang (meski tak jelas orang yang mana??), layaknya makanan, jika hanya serba manis, seperti kue yang memang sudah terasa manis, dilapis dengan selai coklat yang manis, lalu ditaburi dengan gula dan susu yang tentunya juga manis, dan sentuhan terakhirnya yang menambah dramatis,  ditaburi lagi dengan mesis coklat yang sooooo pasti manis

So, what do you think about this cake ? so sweeeeeeeet, atau bahasa sehari-harinya ENEK euy, rasanya syaraf-syaraf di mulut berdenyut-denyut menahan manisnya yang tak tertahankan, ditambah lagi jika orang yang memakannya juga manis, seperti penulis blog ini,he…

Maka, begitulah juga dengan hidup ini, seperti perkataan orang-orang lagi, jika hanya manis-manis saja maka bisa membuat enek atau terasa membosankan. Bahwa diawal-awal saya menapaki jalan hidup di kota ini, Kota dengan lambang perpaduan antara Buaya dan Hiu, saya akhirnya kembali merasakan bagaimana hidup dengan kantong kembang kempis.

Uang beasiswa yang tidak juga turun, dan tidak juga ada kepastian kapan benar-benar akan dicairkan, karena masalah birokrasi. Biasaa, beginilah ruwet jalur birokrasi di negara tercinta nan kaya raya ini, meski tak suka, tapi mau bagaimana lagi, karena kenyataannya saya yang membutuhnya. Ditunjang lagi uang kiriman dari orang tua yang tidak ada, karena saya memang bertekat sekuat tenaga, untuk tidak lagi merepotkan orang tua dalam hal keuangan selama menuntut ilmu di tanah Jawa ini.

Didukung dengan honor mengajar les yang juga sudah habis terpakai untuk keperluan hidup dan kuliah. Saya  juga mencoba mengajar les privat untuk membantu keuangan, meski tak seberapa, tapi setidaknya cukup untuk mengisi perut dan pulsa. Sedangkan untuk meminjam uang dengan sahabat karib senasib-seperjuangan, yang sama-sama merantau dari sumatera selatan, rasanya masih menimbulkan keengganan di hati saya, meski jika saya mau, cukup dengan mengatakan saja, ia pasti akan langsung meminjamkan. Tapi, cukuplah diri ini yang sulit, tak perlu merepotkan orang lain lagi, plus karena malu juga sudah beberapa kali terpaksa meminjam dengannya,he…

Sebenarnya masih tersisa uang di tabungan, yang jika saya ketik nomimal 100.000, maka mesin akan protes “Uang anda tidak mecukupi untuk melakukan penarikan” . tetapi, jika saya ketik angka separuh dari nominal yang sebelumnya, barulah mesin ATM itu tampak mulai bersedia mengeluarkan isinya.

Namun, harapan tinggal harapan, bahwa ternyata uang itupun juga tidak bisa ditarik karena ada perbaikan system.

aduuh alasan macam apa ini, dan tanpa kejelasan kapan uang itu bisa saya ambil, ayolaaah, meski nominalnya tak seberapa, tapi uang itu sangat bernilai bagi saya, terutama pada saat itu.

Alhasil hari itu saya pulang dari kampus dengan lunglai, sembari mengendari sepeda motor, di sepanjang perjalanan otak terus berpikir, dari mana ya bisa dapat uang lagi ?? minimal untuk beberapa minggu atau bahkan beberapa hari ini saja.

Tapi…Allah sungguh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang  duhai kawan, karena rezeki itu datang dari tempat yang tidak disangka-sangka..

Esoknya, saat saya dan beberapa orang teman, pergi ke salah-satu kegiatan yang berkaitan dengan perkuliahan, maka seusai kegiatan, atas inisiatif salah-seorang teman, kami akhirnya mampir ke salah-satu tempat makan yang direkomendasikan olehnya. Namun saat itu, yang terpikirkan oleh saya ialah, berapa  ya kira-kira harga makanan ini ??

Karena pada saat itu, hanya ada uang 5000 rupiah yang terselip manis di dalam dompet saya. Tapi saat itu, saya berpikir praktis saja, weis yang penting makan dululah, urusan gimana bayarnya nanti, ya urusan nanti.

Satu sendok… dua sendok…tiga sendok…dan sendokan sendokan berikutnya,  hingga akhirnya tandaslah isi di dalam piring, berpindah ke dalam perut yang tak lagi kosong. Begitu akan membayar, dan menanyakan berapa harga makanan itu, ternyata salah-seorang teman saya, yang memang  telah memiliki pekerjaan tetap,  menyertakan pula tagihan makanan kami ke dalam bayarannya

Tahukah dirimu duhai sahabatku, bahwa itu sangat membantuku saat itu. Satu bantuan dari Allah yang tampak di mata, sebab,  setelah saya sempat menanyakan harga makanan tersebut, ternyata harganya jauh di atas dari jumlah uang yang masih tersimpan di dompet saya, fine.. yang penting urusan bayar-membayar sudah beres.

Sorenya, saya sempatkan untuk mampir ke kantor tempat saya mengajar les private, dengan tujuan hanya satu, yaitu menukar absen mengajar yang lama,  dengan absen yang baru, hanya itu. Setelah mengobrol panjang lebar dengan ibu pimpinan bimbel, beliau ternyata menawarkan saya untuk mengajar di tempat yang lain pula, dan tentunya saja saya setujui saat itu juga, sebab, itu berarti akan ada tambahan masukan untuk saya.

Allah pertolonganmu datang lagi, ditambah lagi bahwa ternyata ada honor mengajar yang terlewatkan dari perhitungan saya,  yang berarti belum saya ambil.

Ya Allah, begitu cepat bantuanmu datang lagi. Maka sore itu, saya pulang ke kosan dengan tidak lagi hanya mengantongi uang 5000 rupiah, setidaknya bertambah untuk bertahan hidup selama 1 minggu.

Sesampainya di tempat kos, melihat tumpukan buku yang agak kurang sedap dipandang mata, sebagai efek samping mengerjakan tugas kuliah di malam sebelumnya, maka saya sempatkan terlebih dahulu membereskannya, dan sembari membolak-balik buku-buku yang terlihat mulai berdebu.

Pada saat itulah dengan adegan slow motion, tiba-tiba beberapa lembar uang berwarna biru terjatuh dari dalam tumpukan buku,

oh Tuhan apa ini???

Saya yakin, seyakin-yakinnya, bahwa ini bukan uang monopoli, karena seumur hidup saya tidak pernah punya permainan itu (kasihannya ‘_’! ), dan setelah memastikan bahwa uang itu memang milik saya, maka segera saya gunakan untuk membayar keperluan kuliah yang sempat tertunda, duuh leganya.

Sungguh, apa yang saya ceritakan ini, hanyalah segelintir dari tak terhingganya nikmat, yang Allah curahkan selama saya hidup di tanah rantau ini. Inipun barulah nikmat yang mampu saya rasakan, belum lagi nikmat yang tidak mampu saya sadari, bahkan tak mampu bagi saya untuk melihatnya sebagai nikmat, jauh..jauh…jauh lebih tak terhingga lagi tentunya nikmat-nikmat itu.

Kemudahan-kemudahan dalam urusan, rezeki-rezeki yang tak terduga, dan tentunya orang-orang yang satu-persatu hadir dan mengisi hidup saya, selama menghembuskan nafas di kota ini.

Mereka, bukan hanya orang-orang yang luar biasa baik, namun, juga orang-orang yang senantiasa mengajak saya ke dalam kebaikan, meski tak mau saya pungkiri, bahwa mereka tetaplah bukan seorang malaikat, yang tak selalu mampu berbuat baik.

Pun saya sendiri merasa belum juga mampu memberikan sesuatu kepada mereka, sekedar sebagai bentuk syukur pada Allah, akan nikmat yang ia berikan dalam wujud mereka, mereka orang-orang yang hadir dalam hidup saya.

Selalu saya ingat kalimat ini “Merantaulah, maka akan engkau dapatkan pengganti kerabatmu”

Namun jujur, semakin saya menyukai tanah rantau ini, semakin pula saya mencintai tanah halaman saya,

Semakin saya betah dan kerasan hidup di kota orang, semakin pula saya merindukan kota asal saya.

Maka, semakin saya berusaha menyayangi saudara-saudara saya di tanah perjuangan ini,

Semakin pula saya mencintai dan merindukan keluarga di pulau sebrang sana.

Dentingan dawai hati yang tengah merindu….

I can’t find excuse to give up !!!

Bahwa sungguh, apa yang saya rasakan ini, tak ada seujung kuku dengan perjuangan sahabat-sahabat,

Para pengejar mimpi di belahan bumi lain.

Sepetik Bunga Terselip di Salon

Kisah ini berawal, ketika akhirnya hari ini saya memutuskan untuk pergi ke salon, setelah beberapa minggu tertunda dikarenakan beberapa alasan, dan beberapa alasan yang saya buat sendiri,he..

Hingga akhirnya atas desakan teman-teman (lebay.mode on), sore inipun saya berangkat menuju salon.

and this is it, saya pun terduduk manis di kursi tunggu, menunggu motorku tersayang yang sedang di salon (Read : tempat pencucian motor) :P , orang si empunya aja belum pernah…

Tik..tok..tik..tok..

1 menit berlalu…

5 menit berlalu…

10 menit berlalu…

20 menit berlalu…

30 menit berlalu…

Motor kesayangan saya belum juga selesai di lulur dan keramas :p

Sepanjang 30 menit berlalu, sepanjang itu pula, sembari menunggu dengan diiringi music dangdut yang mengalun, atau lebih tepatnya dikatakan menghentak-hentak. Karena benda yang orang beri nama sound music ini bercokol tepat di samping tempat duduk saya, hanya berjarak tak sampai dua meter dari gendang telinga.

Maka selama itu pula, saya mengisi waktu dengan terus memperhatikan Si Mas Pencuci Motor…

Ya…mau tidak mau, karena menyangka tidak akan selama itu, sehingga saya sama sekali tidak membawa persiapan selama menunggu, misalnya saja cemilan dan buku bacaan. Sedangkan biasanya, kemana-mana saya selalu membawa buku untuk mengisi waktu, terutama buku materi kuliah (percaya nggak?? :P )

Meski sebenarnya, Si Mas pencuci motor ini bukanlah pemandangan yang cukup sedap untuk dipandang (he..maaf ya mas), dengan penampilannya yang biasa saja, hanya berbaju kaos dan celana jeans pudar dan dekil (ya iyalah ya masak mau pakai setelan jas, cuma untuk mencuci motor, motor orang lagi)

Saya perhatikan…

dan terus saya perhatikan…

Si Mas sedemikian telaten dan teliti mencuci motor, nyaris seluruh sisi motor  rata dibersihkannya, noda-noda bandel pokoknya kabuur. Gerakannya yang cekatan, namun tenang ternyata juga mampu membuat music dangdut ini terdengar sedikit lebih melembut diteling saya ‘_’!

Ia terlihat begitu focus, sama sekali tidak terganggu dengan orang-orang yang ramai mulai menunggu antrian cucian motor, pandangannya yang hampir tak pernah terlepas dari motor yang sedang dibersihkannya.

Ia seakan sama sekali tidak terganggu atau terpengaruh tatapan orang-orang disekelilingnya. Termasuk tatapan seorang bapak yang belum lama datang, namun terlihat agak terburu-buru, ingin agar motor lekas dicuci, tatapan yang seakan berteriak “cepaat”             (halloo bapak, saya sudah hampir satu jam disini).

Mungkin yang ada dipikiran Si Mas, hanyalah bagaimana agar motor yang menjadi tugasnya ini dapat bersih sempurna, dan tidak mengecewakan pelanggan. Ia sama sekali tidak terlihat terburu-buru.

Bahkan termasuk pula, Si Mas pencuci motor itu sepertinya sama-sekali tidak menyadari, bahwa mulai dari sejak awal hingga hampir satu jam berlalu, ada seorang wanita manis yang terus memperhatikannya, setiap gerak-geriknya, setiap tindak-tanduknya,                 dan wanita itu adalah saya (#@&%$#@)

Tapi focus bukan berarti ia sama sekali tidak perduli dengan sekelilingnya, buktinya saat ia melihat motor di sebelahnya, yang dibersihkan oleh temannya, terlihat terdapat bagian yang masih tampak bernoda, ia langsung melintas dan sejenak membersihkannya, lalu kemudian kembali membersihkan motor yang menjadi tugasnya.

 

Baik, sudah cukup panjang kisah Si Mas pencuci motor ini.

Dalam waktu satu jam selama saya berada di salon motor itu, mungkin tanpa ia sadari, si mas pencuci motor itu seakan menunjukkan pada saya, tentang apa itu focus dalam bekerja, focus yang tanpa sama-sekali acuh dengan kondisi di sekitarnya.

Bahwa seringkali dalam berbuat, bahkan sebelum berbuatpun, kita sudah lebih dulu disibukkan  tentang apa pandangan orang nanti tentang kita, atau bahkan jangan-jangan berbuatpun mengikuti apa yang dipandang orang lain.

Betapa pentingnya untuk focus terhadap apa yang menjadi tanggungjawab kita, sebab focuslah salah-satu rahim yang akan mengandung sebuah totalitas, hingga ketika melahirkan sebuah karyapun, bukanlah karya yang cacat, melainkan sebuah masterpiece.

Tapi sebagai seorang wanita, saya tidak bisa memungkiri, bahwa tak jarang focus ini bukanlah pekerjaan yang mudah, sepertinya kenyataan dan apa yang dikatakan orang ada benarnya, bahwa wanita itu seringkali lebih sulit untuk focus, satu contoh saja, dalam satu waktu yang bersamaan, wanita dapat mengerjakan beberapa hal atau bahkan banyak hal sekaligus, misalnya saja : sembari merendam cucian pakaian, wanita mampu sekaligus memasak makanan, juga memotong bahan masakan atau jika mahasiswa maka sembari download bahan tugas kuliah,he…

Tapi,sulit bukan berarti tidak mudahkan ya ???  ‘__’!

Maksudnya, sulit bukan berarti tidak bisakan ya !!!

Mas pencuci motor itu seakan memampangkan di depan mata tentang wujud kepedulian, bahwa ketika kita focus dengan apa yang menjadi tanggungjawab kita, bukanlah berarti menjadikan alasan kita untuk lepas sepenuhnya atas hal lain yang ada disekeliling.

Ia yang masih sempat untuk membersihkan “motor” lain di sebelahnya.

Pada kenyataannya, bahwa tak jarang diri masih lalai terhadap sekitar.

Sulitnya untuk berhenti sejenak dari pekerjaan..

Menatap sekeliling dan membenahi apa yang tidak semestinya..

Membersihkan noda-noda yang menempel, entahkah itu noda yang menempel pada orang asing di dekat kita, atau terutama pada saudara-saudara di dekat kita.

Sungguh, seringkali ini bukanlah hal yang mudah.

Aduh rasanya serius sekali ya…

Kejadian satu di salon bersama Si Mas pencuci motor, mengingatkan kembali saya pada sebuah kalimat, bahwa dalam bersyukur kepada Allah atas nikmat yang Ia limpahkan, selain mengucap syukur dan hamdalah, masih ada tugas lagi bagi kita, yaitu :

Bekerja Bersungguh-Sungguh” ,

Bukankah berkerja dengan penuh kesungguhan, menunjukkan bahwa kita mensyukuri nikmat yang kita dapatkan, dan memanfaatkan sebaik mungkin nikmat yang Ia berikan.

Bahwa bentuk syukur yang paling tinggi itu ialah dengan ‘Bekerja Bersungguh-Sungguh

 

∞∞∞∞

Mencoba belajar memetik bunga

Memetik bunga hikmah yang terselip dari ranting-ranting kecil di sekeliling,

Bunga yang sebenarnya terlihat oleh kasat mata, namun seringkali tak tampak oleh mata hati.

Note :

Maaf ya jika membosankan, hanya mencari cara untuk membersihkan blog, yang rasanya sudah karatan karena tak jua diisi, plus menunggu kantuk yang belum jua sudi menyapa mata.

Mereka, orang-orang tercinta yang sering terlupakan

Ana uhibbukifillah…

Aku mencintaimu karena Allah..

Ingin sekali rasanya bisa mengatakan langsung pada ia…

Langsung di depannya, tapi diri ini terlalu malu untuk mengatakannya,

sebab masih terselip sangsi, bahwa sungguhkan hati ini benar-benar tulus mencintainya

Dan ego inipun masih kuat bercokol di ruang hati, untuk dapat mengutarakan padanya, 

mengutarakan bahwa aku mencintainya karena Allah.

Ah, bagaimana bisa aku mengatakan bahwa aku mencintanya..

jika ternyata diri ini masih seringkali dihinggapi rasa cemburu yang tak sewajarnya,

Lalu bagaimana bisa rasa ini dikatakan cinta, jika hati ini masih sering tak sabar atas kesalahan-kesalahan yang khilaf dilakukan olehnya.

Dan bagaimana pula bisa menyebut ini cinta, jika kepentingan pribadi masih seringkali mendominasi ego dibandingkan mengutamakannya

Ya..aku memang belum berani mengatakan bahwa ini cinta, karena aku hanya sedang berusaha untuk belajar mencintainya dan terus belajar untuk lebih mencintainya.

Sungguh, ingin sekali rasanya suatu saat dapat mengatakan ini langsung padanya,

dengan hati yang tulus membulat tentunya..

Mengatakan dengan sepenuh hati “Ana uhibbukifillah”

Aku mencintaimu karena Allah, duhai ukhti..

Ia, mereka, saudari-saudari atas ikatan persaudaraan yang direkatkan iman,

kuat mengikat tonggak yang menjulang menembus batas ikatan darah.

Ah, tapi diri ini tetap saja masih malu, untuk mengatakan bahwa “aku mencintaimu”

Sebab diri ini baru mampu mewujudkannya dalam bentuk kata-kata, justru disaat engkau telah mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata….

 

 

Tetesi batu hati

Jembatani jurang kealfaan, dan tak luput

Hujani kasih sayang

Duhai cinta yang terlupa

Terima kasih…

Untuk detik yang kau bagi

Untuk pelangi yang kau ukir

Terima kasih …

Untuk bait-bait sya’ir hidup yang kau lantunkan

Hati berucap, apapun itu…

Terima kasih untuk apapun darimu

Sahabat….

Mereka, “para cinta” yang sempat terlupakan olehku

Terima Kasih Banyak Sahabat-Sahabatku

Inspirasi dan Motivasi Itu Ada, Berserakan Dimana-mana

Inspirasi dan Motivasi Itu Berserakan Dimana-mana

“Inspirasi dan motivasi itu bisa datang dan kita dapatkan dari segala arah”

Sebuah kalimat yang pernah saya dengar, entah berasal dari siapa dan kapan saya pernah mendengarnya,

yang saya ingat hanyalah, bahwa kalimat ini pernah ada dan masuk ke dalam teling saya,

yang akhirnya mulai saya rasakan, bahwa kalimat ini benar-benar ada, hidup dan berdenyut dalam nadi kehidupan saya.

Semua orang, bahkan semua hal dapat kita jadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam hidup kita.

Setujukah engkau kawan ?

Karena sayapun merasakannya, bahwa sumber motivasi itu ada dimana-mana, bahkan berserakan di berbagai tempat. Hanya sekarang, apakah kita mau sekedar untuk memungutnya dan menyimpannya di dalam saku baju kita, atau justru lebih memilih mengabaikan saja atau bahkan menendangnya ke selokan.

Itu pilihan kita kawan, di tangan kita.

Apapun itu, dimanapun itu, bahkan siapapun itu. Jika kita mau, maka ia bisa menjadi sumber inspirasi dalam hidup kita, bahkan menjadi sumber motivasi yang luar biasa untuk meledakkan hari-hari kita.

Sedikit berbagi cerita, saat-saat dimana saya menyadari bahwa sumber motivasi itu bisa datang dari manapun. Orang tua, sahabat, dosen, sebuah foto, sebuah rekaman video bahkan kendaraan bernama bus kota pun pernah terbentuk menjadi sumber inpirasi dan motivasi dalam hidup ini.

Ialah ketika saya mempersiapkan diri untuk mengikuti SPMB, sebuah pilihan pertama  yang jatuh pada Universitas Sriwijaya, sebagai hasil kompromi atas keinginan orang tua yang begitu menentang keinginan saya, untuk merantau mengais ilmu di pulau Jawa.

Tahukah engkau kawan, apa yang menjadi alasan mengapa pilihan itu kahirnya jatuh di kota Palembang ?

Sebuah bus kotalah jawabannya, bus kota yang catnya mulai tampak luntur, pun kaca yang tak sempurna lagi.

Ya, sebuah bus kota, yang mengispirasi saya ketika itu. Ialah ketika melihat mahasiswa-mahasiswa yang tampak berebut, demi mendapat jatah untuk ikut naik ke dalam bus, tak perlulah berharap untuk bisa duduk, mendapat jatah untuk bediri selama perjalananpun tak apalah. Sebuah perjuangan untuk berangkat kuliah, demi mengejar ilmu dan meraih mimpi. Waaw, terlihat begitu keren di mata saya ketika itu, meski saya tak tahu apa yang sebenarnya dilakukan mahasiswa-mahasiswa itu di kampusnya.

Sangat sederhana memang.

Itulah inspirasi, seringkali terbit dari sesuatu yang sangat sederhana, namun mampu melahirkan sesuatu yang luar biasa.

Berlanjut dalam persiapan menghadapi SPMB, hari-hari saya lalui dengan melahap soal-soal SPMB. Tiada hari yang saya lewatkan tanpa kenyang melahap soal-soal ini. Maka hasilnya, seperti saya duga diawal, rasa bosan, jenuh atau malas seringkali datang bertandang.

Hingga suatu hari, saya menemukan sebuah foto dalam memory hp saya.

Sebuah foto, yang sejak padangan pertama mampu membius  mata dan pikiran saya. Sebuah foto yang akan lekas-lekas saya tatap untuk mengusir segerombolan rasa malas dan  jenuh yang datang bertamu.

Kenyataannya, bahwa foto ini bukanlah foto keluarga atau orang tua saya, melainkan sebuah foto jembatan Ampera di malam hari, sebuah jembatan di tengah kota Palembang dengan lampu-lampunya yang berkilauan, dan terpantul cantik pada permukaan air sungai yang mengalir tenang di bawahnya.

Indah sekali..

Benar-benar terlihat begitu indah di mata saya saat itu. Maka jembatan yang terukir di dalam selembar foto itupun akhirnya benar-benar menjadi jembatan motivasi hari-hari saya, bahwa suatu saat saya akan berdiri disana, dengan status saya sebagai mahasiswi Universitas Sriwijaya.

Jembatan yang akhirnya mengantarkan saya duduk di bangku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya.

Namun, pada masa-masa awal perkuliahan sempat terlintas kebingungan-kebingungan yang melahirkan pertanyaan “Mau apa saya kuliah di fakultas ini ?”, sehingga terpikir oleh saya ketika itu, untuk mengikuti SPMB kembali di tahun depan. Meski sungguh, akan sangat terasa sakit jika mengingat hilang sudah perjuangan saya selama ini.

Hingga akhirnya, hadir di hadapan saya sosok seorang dosen,  seorang dosen, yang kelak tertakdir menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Dosen yang setiap kali ia mengajar, selalu mampu membawa mahasiswanya berdiri pada titik kesadaran,terkhusus yang saya rasakan, akan betapa pentingnya peran kami sebagai generasi penerus bangsa ini, peran kami sebagai seorang “Pejuang Kesehatan Masyarakat”.

Saya rasakan, setiap kata-kata yang keluar dari lisannya, selalu tertangkap akan sebuah kebanggaan menjadi bagian dari pejuang-pejuang kesehatan masyarakat. Kata-kata yang menjadi obat mujarab penawar bagi penyakit kebingungan saya. Menusuk langsung ke dalam relung hati dan menjalar pada syaraf-syaraf otak di kepala saya. Meyakinkan kepda saya, bahwa disinilah seharusnya saya berada.

Ia menjadi sosok yang memukau di mata saya saat itu, menjadi wujud nyata inspirasi dan motivasi bagi saya.

Dan hiduppun terus bergulir, bahwa faktanya dalam otak saya perjalanan kuliah  tidak selalu menyenangkan, bahkan bisa saya katakan seringkali rasa bosanlah yang  menguasai. (hadeeeh)

Awalnya, mimpi-mimpi kuliah saya hanyalah sebatas bagaimana mendapatkan nilai yang baik, dan bagaimana dapat segera menamatkannya. Hingga akhirnya saya dipertemukan oleh Tuhan dengan sebuah buku yang kemudian mampu memberi sebuah inspirasi bagi saya.

Sebuah buku motivasi berjudul Edensor. Sudah pernah mendengar dan membacanya bukan kawan ?

Tanpa saya sangka, ternyata buku ini sedemikian kuat mencengkeram alam pikir saya. Menjadikan inspirasi bagi saya bahwa ”saya ingin melanjutkan kuliah di luar negeri ” dan bertambah kuat motivasi itu saat saya menemukan sebuah video rekaman dosen yang seorang lulusan sebuah universitas di negeri kangguru. Video yang sebenarnya bukan diperuntukkan bagi saya, karena video itupun saya ambil diam-diam dari profil di facebook beliau (maaf ya bu ^^). Menjadi sumber inspirasi dan motivasi hari-hari saya. Bahkan dialog-dialog dalam buku dan rekaman video itu seakan-akan sudah terhafal kuat oleh saya, karena seringnya saya baca dan dengar.

Namun, manusia tetaplah manusia, rasa malas serta jenuh itu tetap saja gemar menghampiri. Maka pencarian saya akan sumber motivasi lainpun kembali berlanjut, dan ternyata berhenti pada diri seorang teman.

Pertama kali saya jadikan ia sebagai  sumber motivasi hanya karena pernah melihatnya berdiri melompat-lompat saking semangatnya, disamping karena setelah itu saya ketahui banyaknya prestasi yang pernah ia dapatkan dalam bidang karya tulis mahasiswa. Saat itu, ia terlihat sebagai sosok yang begitu bersemangat di mata saya, dengan mengabaikan segala kekurangan yang ia miliki, maka segera saya daulat ia sebagai sumber motivasi kala itu.

Hingga akhirnya, saat saya tercebur dan berenang riang meski kadang timbul tenggelam di dalam lautan organisasipun berawal terinspirasi dari seorang kakak tingkat saya. Terlihat memukau di mata saya, seakan sesuatu yang luar biasa untuk rela menyisihkan waktu, tenaga juga harta yang sungguh  tak seberapa hanya untuk orang lain, yang bahkan tidak dikenal sama sekali.

Terinspirasi dan termotivasi sembari terus berusaha tertatih-tatih memperbaiki niat dan diri.

Setelah berhasil menamatkan skripsi yang menghabiskan waktu berbulan-bulan, dan ternyata dikemudian waktu mendapatkan fakta, bahwa kedua orang tua mengubah pola pikir mereka menjadi sangat tidak mengizinkan saya untuk segera menempuh strata dua begitu menamatkan kuliah. Hal yang cukup pernah membuat saya merasa begitu kehilangan semangat yang sudah lama saya kumpulkan. Hingga akhirnya saya putuskan, untuk mengubah haluan perencanaan hidup pasca kelulusan. Dan segera mencari sumber motivasi yang baru, yang kemudian menemukannya pada sosok seorang sahabat, yang saat ini telihat begitu membanggakan di mata saya, akan semangatnya mencari penghidupan dan membahagiakan orang tua. Membuat saya kembali menatap bercahaya hidup ini.

Dari kesemua ini, sesungguhnya saya hanya ingin mengatakan, bahwa INSPIRASI DAN MOTIVASI ITU ADA, BAHKAN BERSERAKAN DIMANA-MANA. Setiap orang yang saya temui bahkan setiap sahabat yang saya miliki, selalu akan saya ambil satu sisi dalam diri mereka, yang dapat menjadi sumber motivasi bagi saya.

Dan orang tua, ayah dan ibu saya selalu mejadi peringkat teratas sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam hidup ini.

Namun sungguh, sumber inspirasi dan motivasi terdekat ialah berasal dari dalam diri kita sendiri, tanpa perlu mencari keluar. Kita hanya butuh pemantiknya saja dari luar.

Maka di atas itu semua, sumber motivasi yang kekal dan tak akan pernah pudar ialah  Zat Yang Maha Kekal,

Allah Yang Maha Kuasa. Bahwa Allah sesungguhnya dan seharusnya yang menjadi awal sumber dari inspirasi dan motivasi kita dalam hidup ini.

Dalam menjalani kehidupan ini, akan terus mencari dan menemukan sumber-sumber inspirasi dan motivasi itu, dan semoga selalu dalam bimbingan Nya.

Karena di mata saya, inpirasi dan motivasi itu ada dimana-mana, bahkan berserakan di setiap sudut bumi ini. Cukup temukan ia dan simpan di dalam saku hidup kita.

Setiap hari, setiap waktu, adalah perjalanan menemukan inspirasi dan motivasi, dan semoga mampu pula berbagi, berbagi inspirasi, berbagi motivasi.

 

Sekedar berbagi, dari seseorang yang benar-benar merasa belum menjadi siapa-siapa.

PBL PADANG in Memoriam

Mengenang saat lebih setahun sudah terlewat dari masa-masa itu

Sebuah perjalanan pengabdian, mencoba mengaplikasikan segala ilmu yang diperoleh selama hampir tiga tahun menuntut ilmu di dalam ruang kelas yang nyaman, meski sedikit panas (waktu itu belum ada AC ya ^^).

Mewujudkan sebuah bukti nyata pengabdian terhadap masyarakat, terkhusus masyarakat Padang Pariaman, Kecamatan Patamuan. Kecamatan dengan desa-desa di dalamnya, desa yang merasakan keganasan gempa Padang 30 September 2009. Menyisakan saksi-saksi hidup dengan segala kisah yang luar biasa. Kisah yang semakin menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa, tapi juga menyisakan saksi-saksi mati, yang hingga kini masih ratusan terkubur rata oleh tanah tanpa pernah diketemukan lagi. 100 orang lebih terkubur disana,  di tempat yang pernah kami injakkan kaki kami. Sebuah pengalaman yang luar biasa bagiku sekaligus mampu membuatku merinding jika mengingatnya.

Padang, ternyata kota yang cantik. Dengan segala keunikannya.

Alamnya indah dengan sawah hijau terbentang, sungai yang bersih, bukit berbaris, udara yang bersih dan sejuk, serta orang-orang yang ramah. Dan tak lupa sate padangnya yang uenak tenan dan murah meriah ^^, serta orang-orangnya yang rancak bana, pernah beberapa kali naik angkot supirnya ganteng-ganteng semua,he… just intermedzo.

Di tempat yang indah itu, kami ternyata bukan hanya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman, tapi lebih dari itu, kami juga mendapat saudara dan keluarga baru, dan pastinya mendapat banyak sekali kenangan. Kenangan-kenangan yang membuat tersenyum saat mengingatnya sekaligus membuat menangis saat  mengenangnya.

Terima kasih untuk seluruh dosen dan para pembimbing dari LPM untuk bimbingannya kepada kami selama kami disana.

Terima kasih untuk seluruh keluarga di Patamuan atas sambutannya yang begitu hangat, dan perlakuannya yang sudah seperti keluarga sendiri selama kami disana. Semua yang membuat kami seakan berada di rumah sendiri, membuat kami meneteskan tidak sedikit air mata saat tiba waktu kami harus kembali ke kota asal kami.

Terkhusus terima kasih untuk Almarhum Pak Masri yang luar biasa baik di mata kami, anak-anak Bapak dari kelompok 6. Terima kasih Pak,  untuk rumahny a yang kami tempati seperti rumah sendiri, untuk ikannya yang sudah kami pancing dan kami masak, untuk piring dan gelasnya yang sudah kami pakai dan beberapa tidak sengaja kami pecahkan.

Semoga segala kebaikan Bapak menjadi amal ibadah di mata Allah dan semoga Bapak bisa beristirahat dengan tenang di sisi Nya.

Sangat terima kasih untuk seluruh teman-teman dari FISIP, terima kasih mau bersahabat dengan kami, yang mungkin awalnya terlihat aneh di mata kalian. Kami yang datang dengan koper besar dan membawa bantal-bantal kecil ^^.

Dan terutama terima kasih untuk seluruh teman-teman FKM, mungkin moment itu merupakan moment terakhir selama kita kuliah ketika kita bisa berkumpul bersama seluruhnya, tanpa terkecuali.

Dan terkhusus untuk sahabat-sahabatku di kelompok 6. Terima kasih atas semua yang kita alami dan lalui bersama disana. Meski kita tidak jarang berbeda pendapat dan merajuk-merajukan, tapi itu semua tetap menjadi kenangan dan pengalaman yang luar biasa.

Salah-satu hal yang ku dapat, bahwa jika ingin mendapatkan pelajaran kehidupan yang sesungguhnya, maka KELUARLAH, KELUARLAH menuju pada kehidupan yang sesungguhnya.

Saat ini kita sudah mulai menjalani jalan kita masing-masing pada “the real jungle”. Dan semoga setahun lagi, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi dan berapa tahun lagipun semoga sukses untuk kita semua sahabat-sahabat.

Salam Sahabat ^__^

“Cinta yang Terlupa”

Tetesi batu hati

Jembatani jurang kealfaan, dan tak luput

Hujani kasih sayang

Duhai cinta yang terlupa

Terima kasih…

Untuk detik yang kau bagi

Untuk pelangi yang kau ukir

Terima kasih …

Untuk bait-bait sya’ir hidup yang kau lantunkan

Hati berucap, apapun itu…

Terima kasih untuk apapun darimu

Sahabat….

Mereka, “para cinta” yang sempat terlupakan olehku

Terima Kasih Banyak Sahabat-Sahabatku

AKU INGIN….

Aku ingin menjadi burung

Terbang tinggi menembus batas langit

Tapi, aku takut ketinggian

 

Aku ingin menjadi sekuntum mawar

Memancarkkan wewangian yang menyejukkan hati

Tapi, aku tak ingin layu

 

Aku ingin menjadi air di sungai

Mengalir, melintasi berbagai tempat

Tapi, aku tak rela dikotori, aku benci sampah

 

Aku ingin menjadi ombak di lautan

Garang menantang dunia

Tapi, aku tak kuat terhempas karang

 

Aku juga ingin menjadi manusia

Menjadi sang penguasa muka bumi

Tapi, mereka seringkali jahat dan tak berperasaan


Lalu aku sebaiknya menjadi apa ya?

Tapi aku tidak berhak tuk memilih

Karena hidup itu bukan pilihan melainkan penuh dengan pilihan

It’s our life, it’s our choice

Kosan Sweet Kosan : Saat Kos Tak Hanya Sebagai Tempat Tinggal

Sedikit kisah dari berjuta kisah lainnya….

Selama berjuang bersama status mahasiswi ini ada 2 tempat kos yang pernah menjadi tempatku bernaung. Kosan pertamaku tertelak tepat di depan kampusku, sangat sepi, berbeda dengan kondisi sekarang yang sudah ramai dan cukup fasilitas umum. Sedangkan dulu saat aku disana, begitu menginjak pukul 4 sore maka setiap  supir angkot yang aku stop akan menggeleng begitu aku sebutkan tujuanku, sehingga tak jarang aku harus pulang berjalan kaki dengan jarak yang lumayan dari jalan bernama timbangan hingga tempat kosku (lupa tepatnya jaraknya tapi bagi yang tau bisa membayangkan bagaimana rasanya). Sehingga aku hanya mampu bertahan selama 1 tahun disana dan akhirnya memutuskan untuk pindah tempat kos. Meskipun tempat kos pertamaku tetap memberi kesan berarti untukku.

Lalu kisah inipun dimulai….(let’s cekidot,he…)

Aku yang baru merasakan hidup ngekos saat kuliah, dan jika awalnya aku atau mungkin juga kamu menganggap bahwa kosan hanyalah tempat untuk beristirahat, sekedar numpang tidur dan makan plus numpang mandi, maka aku dan kamu SALAH BESAR. Karena ternyata, ditempat kosku yang baru, yang kami sebut dengan “Republik Citra” aku menemukan, belajar dan merasakan banyak hal. Bahwa ternyata kosan juga menjadi tempat belajar hidup berdampingan, tempat memupuk persaudaraan dan menjadi tempat menyebarkan dan menegakkan syi’ar-Nya.

Karena itu, jujur perasaan sedih akan ada saat aku menemukan mereka yang aktivis tapi menjadikan tempat kos tak lebih dari sekedar tempat numpang. Maaf sebelumnya sama sekali tanpa bermaksud  merasa lebih baik. Karena aku sendiri, tak jarang pula ketika tugas kuliah memberatkan kepala atau tugas organisasi yang meletihkan hati dan pikiran, maka aku akan menjadi sosok yang acuh tak acuh dengan perubahan yang terjadi di lingkungan kosku atau menjadi cuek dengan kejadian tak biasa di sekitar kos. Tapi ini bukan tentang seberapa sering kita menghadirkan jasad kita untuk tempat kos kita (ntar ujung2nya malah lebih sering mendep di kamar), melainkan tentang bagaimana kita memasukkan dan memberikan ruang untuknya di hati kita. Semoga tak hanya untuk kampus tapi juga kosan, kampung dan kerja(di tempat kerja). Amin ya Allah Amin.

Semoga kita semua diistiqomahkan dan saling mengistiqomahkan

Republik Citra, layaknya republik maka disinipun kami juga punya presiden. Presiden disini ialah Ketua dari Ikatan Remja Mushola Citra, ia yang menjadi saudara sekaligus pemimpin di jalan ini. Awal menetap di republik ini, aku dikejutkan bahwa ternyata aku tak boleh hanya sekedar tinggal disini tapi juga ada tugas yang harus aku tunaikan, ada hal-hal yang harus aku jaga. Di republik ini aku semakin merasakan apa itu persaudaraan.


Life is never flat, sebuah kalimat dari salah-satu iklan makanan di TV.

Iklan itu benar sekali, bahwa hidup itu tidak pernah datar, dan orang malanglah yang menjadikan hidupnya hanya datar-datar saja. Maka seperti itulah kehidupanku disini, 3tahun lebih aku habiskan, ada senyum, tawa dan air mata disana. Senyum manakala melihat rumah kos yang menjadi tempat pengajian rutin kami tiap hari kamis, ramai oleh teman-teman kos putri. Tawa saat bercanda dan berkumpul bersama teman-teman kos di sore hari sembari mengobrol(kalau tidak mau disebut merumpi,he..) atau saat JJS (jalan-jalan sores) mengitari belakang kampus untuk sejenak melepaskan pikiran tentang pusingnnya perkuliahan, dan tentunya tawa saat bergembira menjalani kegiatan/acara santai yang diadakan ikatan remaja mushola (IRMUSH) Citra, juga tawa-tawa bahagia lainnya. Namun juga ada air mata dan kesedihan disana, saat melihat ada teman kos yang semakin “menjauh”, saat berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu tak ada suara adzan bergema di Republik Citra ini, atau saat kejadian “grebek menggrebek” itu harus terulang lagi, atau bahkan juga saat ada adik/teman yang menyatakan lelah “berjuang” disini dan ingin berhenti saja.

Banyak sudah kegiatan bersama yang kami lakukan disini, ada yang berupa acara seperti jalan-jalan pagi, pengajian rutin, lomba 17 Agustus_an, baksos, nonton bareng full hikmah, lomba masak, buka puasa bersama, pengajian akbar, belajar tahsin. Atau kegiatan-kegiatan selingan seperti jalan-jalan sore, kumpul-kumpul, nonton teman-teman main bola(wah kalo yang ini sudah lama bener nggak lagi) atau sekedar ngobrol di kantin sembari mengantri beli makan.

Sungguh aku bahagia menjadi bagian dari “Republik” ini.

Bahagia bukan karena hanya selalu hal benar yang kulakukan, karena disini pula aku belajar melakukan kesalahan yang baik (waduh, disengaja donk salahnya ^_^)

Republik dengan karakter orang-orangnya yang berbeda-beda, tentu saja, karena setiap orang itu adalah unik dan berbeda. Ada yang ramah dan setiap aku lewat akan ditegur, ada yang usil kerjaannya kalau ketemu selalu ngusilin, ada yang baik-baik karena tak jarang memberikan buah tangan untukku, kadang buah, kue, keripik, pempek, gorengan atau baik karena selalu tetap tersenyum setiap kali aku meminta minum atau beras karena kehabisan(ini karena kehabisan lho bukan disengaja), ada juga yang cuek dan pendiem abis, saat aku riang gembira menegurnya ternyata dia selalu hanya membalas dengan seyuman kecil sekali (ah ini mah dasar akunya aja ya yang mau minta lebih,he…)

Tapi apapun itu, berusaha dan merasa menikmati itu semua.

Jadi buat teman-teman atau adik-adik yang belum dapat kos atau mau pindah kos, silahkan datang ke Republik Citra (kok jadi promosi ya,hi….)

Intinya, dimanpun kita sekarang berada dan apapun yang sekarang tengah kita jalani. Maka masukkanlah ia ke dalam hati kita, agar ada ruh dan nyawa disana dan masuk ke dalam hati pula. Agar mampu kita buktikan bahwa life is never flat.

Yuk sama-sama kita belajar dan berusaha menggunakan hati ini ^_^

Sekali lagi, sama sekali tanpa bermaksud merasa lebih baik.

Semoga bermanfaat atau minimal tidak merusak pikiran ^o^