My Blog My Real

Sebuah Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi

Ketidakpedulian yang Berujung Kematian

2 Comments

Ini tentang sebuah kisah nyata…

Tentang ketidakpedulian yang ternyata berakibat fatal yaitu kematian

Malam itu, waktu mulai merangkak menuju pukul 22.00, samar-samar aku mendengar suara dari depan rumah kosku

Jelas sekali terdengar, rasanya sesuatu yang bersuara itu ada tepat di depan pintu.

Aku coba cermati sejenak suara itu, dan sempat membuat ku terkejut, karena suara itu persis seperti suara tangisan anak bayi. Terlintas dalam benakku kalau itu mungkin benar suara seorang bayi. Tapi…bayi syiapa dan rasanya aneh sekali kalau tiba-tiba ada di depan kosanku.  Dan efek samping dari masa lalu yang seringnya menonton sinetron, membuat terlintas di pikiranku bahwa mungkin itu bayi yang dibuang ibunya karena bapaknya tidak ingin bertanggung jawab (tuing…korban sinetron). Tapi, kenapa harus di depan pintuku, bukankah ada 35 pintu Kosan putri lainnya selain aku, dan total ada hampir 80 kosan putra dan putri selain kosanku. Lalu kenapa harus di depan pintu ini. Oh,mungkin Tuhan memang memilih aku yang menemukan bayi ini (tuing..korban sinetron akut), atau jangan-jangan itu bukan suara anak bayi sungguhan, tapi….hiii serem (tuing..korban sinetron horor kronis).

Berbagai perasaan campur aduk dalam hatiku,antara takut jika apa yang aq pikirkan tadi benar, maka mau diapakan bayi itu, dan pastinya akan menambah urusanku.  Aduuh… waktuku sudah cukup tersita untuk mengurus TA ku yang sampai sekarang belum juga kelar. Tapi di dalam hatiku juga muncul perasaan senang, waah…akan ada makhluk kecil nan lucu nih di kosanku, minimal untuk malam ini saja. Dan pasti akan sangat menyenangkan, karena aku juga suka dengan anak kecil lho, apalagi anak bayi ^^.

Tapi pikiran-pikiran berseliweran itu belum cukup untuk menggerakkan kakiku untuk melangkah dan melihat keluar rumah. Aku coba cermati lagi benar-benar suara itu, dan ternyata ada perubahan suara yang tadinya terdengar seperti bayi menangis menjadi suara kucing mengeong. Gubrak….iya benar, ternyata itu hanya suara kucing, lebih tepatnya lagi suara anak kucing. Bukan menjadi hal yang aneh dan baru jika suara kucing terdengar seperti suara anak bayi, benar bukan? Jadi rasanya tadi aku tidak terlalu mengada-ngada ya.

Setelah yakin bahwa itu benar-benar suara seekor anak kucing maka aku memutuskan untuk mendiamkan saja dan melanjutkan pekerjaanku yang tertunda di depan laptop.

Waktu terus berjalan dan beranjak menjadi semakin malam, tapi suara anak kucing mengeong tadi tetap terdengar di depan pintuku. Sempat terlintas perasaan khawatir, jangan-jangan ada apa-apa dengan anak kucing itu. Tapi…ah kan sudah biasa terdengar suara kucing di kosan ini, karena kompleks kosanku ini memang terkenal sebagai tempat pembuangan kucing, saking banyaknya kucing yang terlihat berkeliaran di dalam areal kompleks kosan, dan kembali aku memutuskan untuk mendiamkannya saja.

Tik…tok…tik…tok…

Waktu sudah benar-benar malam, pekerjaanku di depan laptop kesayanganku belum juga selesai, tapi mataku sudah tidak mau berkompromi lagi dan nyaris tertutup. Untuk menjaga kesehatan juga, maka aku memilih untuk tidur dan istirahat dulu. Bergegas aku membersihkan diri dan berwudhu sebelum tidur. Saat akan memasuki kamar, aku terhenti sejenak mendengar suara anak kucing yang sampai sekarang masih dengan setianya mengeong di depan pintu kosanku. Tapi suara itu terdengar lebih pelan dan lemah. Maka aku berpikir mungkin anak kucing itu sama seperti ku, sudah mulai mengantuk dan ingin tidur. Oke kalau begitu, selamat tidur juga ya anak kucing.

Zzzzz……

Singkat cerita esok paginya aku mendapat cerita dari seorang adik yang lewat di depan kos ku pagi ini, bahwa dia melihat seekor anak kucing di dalam got di depan kosku, got itu memang berukuran agak tinggi, jadi jika melihat ukuran anak kucing itu yang kecil maka wajar kalau ia sulit untuk keluar lagi setelah terjatuh. Aku perhatikan anak kucing itu,

Hhmmm….tubuhnya kecil dan kurus sekali, dan sudah sangat lemah, mungkin karena semalaman terperangkap di dalam got yang berisi air, dan seingatku malam tadi juga sempat hujan tengah malam. Dalam hatiku mulai muncul perasaan bersalah dengan anak kucing ini, andai saja malam tadi aku keluar dan melihat si anak kucing, lalu mengeluarkannya dari got, mungkin dia tidak akan seperti ini, lemah dan nyaris mati.

Alhamdulillah si anak kucing masih hidup, terlihat masih ada gerakan di dadanya, yang menunjukkan bahwa masih ada kehidupan disana.

Ingin menebus perasaan bersalahku, maka ku putuskan akan merawat anak kucing itu. Tubuh si anak kucing masih terlihat basah, jadi aku biarkan dulu anak kucing itu berbaring di depan kosku di atas selembar kain berwarna merah, maksudnya untuk  mengeringkan tubuhnya dulu dari air got yang kotor. Sambil menunggu, aku tinggal dulu anak kucing itu dan melanjutkan aktifitasku di dalam. Kesibukan di depan laptop akhirnya dengan sukses membuat aku lupa dengan si anak kucing, dan ternyata waktu sudah berjalan lebih dari 5 jam dari ketika aku menemukan si anak kucing. Maksud hati ingin memberinya makan, aku kunjungi si anak kucing di depan kos. Hai anak kucing apa kabarmu, sudah lebih baikkah???

Dan aku benar-benar terkejut, si anak kucing sekarang memang sudah benar-benar lebih baik, lebih baik karena sekarang dia tidak lagi harus menghadapi keras dan kejamnya dunia. Si anak kucing sudah tidak bernyawa lagi….

Perasaan bersalah itu sekarang benar-benar membuncah di hatiku,

aku sudah membunuhnya….

iya…aku yang membunuh si anak kucing….

anak kucing itu mati gara-gara aku..

Kembali untuk menebus perasaan bersalah yang semakin besar, aku berniat menguburkan si anak kucing, tapi karena keterbatasan alat jadi aku meminta tolong dengan penjaga kosan untuk mencarikan alatnya, dan si bapak penjaga justru  menawarkan diri untuk menguburkannya. Terakhir aku dapatkan cerita dari si bapak bahwa ternyata anak kucing itu tidak dikuburkannya, melainkan dibuang begitu saja di luar pagar kompleks kos.

Maaf ya Si anak kucing, jasadmupun tidak mampu aku kuburkan dengan baik.

Dari kisah ini aku mendapatkan sebuah pelajaran dan menjadi pembelajaran untukku.

Tentang pentingnya kepedulian. Mungkin ini hanya sebuah kisah sederhana, atau bahkan terdengar sebagai sebuah cerita yang tak penting. Tapi sungguh, ada pembelajaran akan kepedulian disana untukku. Selama ini, sudah sejauh apa kepedulian ku terhadap orang-orang disekitarku. Selama ini mungkin, sungguh masih lemahnya kemampuan untuk menangkap dan membaca kondisi ketika saudara yang lain sedang membutuhkan bantuan dari ku. Dan selama ini sejauh apa aku bisa segera bertindak dan berbuat untuk membantu saudara lain yang terlihat sedang membutuhkan. Aku tak ingin, dan sungguh tak terbayangkan jika kisah ini suatu saat menjadi sebuah analogi kisah yang nyata terjadi pada saudara/i ku akibat dari begitu rendahnya kepedulianku.

Sebuah kisah sederhana, yang mengajarkan kepada ku dan teruntuk pula dirimu saudaraku, tentang sejauh apa kepedulian kita selama ini terhadap saudara-saudara yang ada di sekitar kita.

Maaf ya anak kucing….

Author: my BlOg my Real

I'm a bird, I'm a flower, I'm a stone but the real, I'm a human slave of Allah, Inoy Trisnaini, itu namaku. Sudah terlalu banyak komentar tentang nama ini, ada yang mengatakan aneh,unik,lucu,bagus bahkan ada pula yang mengatakan jelek so what ?? it's my name. Mak, aku ialah hamba Allah dengan segala kekurangan dan kelebihanku. aku hanya seorang manusia biasa yang tengah berjuang untuk menjadi bukan manusia biasa, just do the best that I can do.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s