My Blog My Real

Sebuah Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi

Sepetik Bunga Terselip di Salon

2 Comments

Kisah ini berawal, ketika akhirnya hari ini saya memutuskan untuk pergi ke salon, setelah beberapa minggu tertunda dikarenakan beberapa alasan, dan beberapa alasan yang saya buat sendiri,he..

Hingga akhirnya atas desakan teman-teman (lebay.mode on), sore inipun saya berangkat menuju salon.

and this is it, saya pun terduduk manis di kursi tunggu, menunggu motorku tersayang yang sedang di salon (Read : tempat pencucian motor)😛, orang si empunya aja belum pernah…

Tik..tok..tik..tok..

1 menit berlalu…

5 menit berlalu…

10 menit berlalu…

20 menit berlalu…

30 menit berlalu…

Motor kesayangan saya belum juga selesai di lulur dan keramas :p

Sepanjang 30 menit berlalu, sepanjang itu pula, sembari menunggu dengan diiringi music dangdut yang mengalun, atau lebih tepatnya dikatakan menghentak-hentak. Karena benda yang orang beri nama sound music ini bercokol tepat di samping tempat duduk saya, hanya berjarak tak sampai dua meter dari gendang telinga.

Maka selama itu pula, saya mengisi waktu dengan terus memperhatikan Si Mas Pencuci Motor…

Ya…mau tidak mau, karena menyangka tidak akan selama itu, sehingga saya sama sekali tidak membawa persiapan selama menunggu, misalnya saja cemilan dan buku bacaan. Sedangkan biasanya, kemana-mana saya selalu membawa buku untuk mengisi waktu, terutama buku materi kuliah (percaya nggak?? :P)

Meski sebenarnya, Si Mas pencuci motor ini bukanlah pemandangan yang cukup sedap untuk dipandang (he..maaf ya mas), dengan penampilannya yang biasa saja, hanya berbaju kaos dan celana jeans pudar dan dekil (ya iyalah ya masak mau pakai setelan jas, cuma untuk mencuci motor, motor orang lagi)

Saya perhatikan…

dan terus saya perhatikan…

Si Mas sedemikian telaten dan teliti mencuci motor, nyaris seluruh sisi motor  rata dibersihkannya, noda-noda bandel pokoknya kabuur. Gerakannya yang cekatan, namun tenang ternyata juga mampu membuat music dangdut ini terdengar sedikit lebih melembut diteling saya ‘_’!

Ia terlihat begitu focus, sama sekali tidak terganggu dengan orang-orang yang ramai mulai menunggu antrian cucian motor, pandangannya yang hampir tak pernah terlepas dari motor yang sedang dibersihkannya.

Ia seakan sama sekali tidak terganggu atau terpengaruh tatapan orang-orang disekelilingnya. Termasuk tatapan seorang bapak yang belum lama datang, namun terlihat agak terburu-buru, ingin agar motor lekas dicuci, tatapan yang seakan berteriak “cepaat”             (halloo bapak, saya sudah hampir satu jam disini).

Mungkin yang ada dipikiran Si Mas, hanyalah bagaimana agar motor yang menjadi tugasnya ini dapat bersih sempurna, dan tidak mengecewakan pelanggan. Ia sama sekali tidak terlihat terburu-buru.

Bahkan termasuk pula, Si Mas pencuci motor itu sepertinya sama-sekali tidak menyadari, bahwa mulai dari sejak awal hingga hampir satu jam berlalu, ada seorang wanita manis yang terus memperhatikannya, setiap gerak-geriknya, setiap tindak-tanduknya,                 dan wanita itu adalah saya (#@&%$#@)

Tapi focus bukan berarti ia sama sekali tidak perduli dengan sekelilingnya, buktinya saat ia melihat motor di sebelahnya, yang dibersihkan oleh temannya, terlihat terdapat bagian yang masih tampak bernoda, ia langsung melintas dan sejenak membersihkannya, lalu kemudian kembali membersihkan motor yang menjadi tugasnya.

 

Baik, sudah cukup panjang kisah Si Mas pencuci motor ini.

Dalam waktu satu jam selama saya berada di salon motor itu, mungkin tanpa ia sadari, si mas pencuci motor itu seakan menunjukkan pada saya, tentang apa itu focus dalam bekerja, focus yang tanpa sama-sekali acuh dengan kondisi di sekitarnya.

Bahwa seringkali dalam berbuat, bahkan sebelum berbuatpun, kita sudah lebih dulu disibukkan  tentang apa pandangan orang nanti tentang kita, atau bahkan jangan-jangan berbuatpun mengikuti apa yang dipandang orang lain.

Betapa pentingnya untuk focus terhadap apa yang menjadi tanggungjawab kita, sebab focuslah salah-satu rahim yang akan mengandung sebuah totalitas, hingga ketika melahirkan sebuah karyapun, bukanlah karya yang cacat, melainkan sebuah masterpiece.

Tapi sebagai seorang wanita, saya tidak bisa memungkiri, bahwa tak jarang focus ini bukanlah pekerjaan yang mudah, sepertinya kenyataan dan apa yang dikatakan orang ada benarnya, bahwa wanita itu seringkali lebih sulit untuk focus, satu contoh saja, dalam satu waktu yang bersamaan, wanita dapat mengerjakan beberapa hal atau bahkan banyak hal sekaligus, misalnya saja : sembari merendam cucian pakaian, wanita mampu sekaligus memasak makanan, juga memotong bahan masakan atau jika mahasiswa maka sembari download bahan tugas kuliah,he…

Tapi,sulit bukan berarti tidak mudahkan ya ???  ‘__’!

Maksudnya, sulit bukan berarti tidak bisakan ya !!!

Mas pencuci motor itu seakan memampangkan di depan mata tentang wujud kepedulian, bahwa ketika kita focus dengan apa yang menjadi tanggungjawab kita, bukanlah berarti menjadikan alasan kita untuk lepas sepenuhnya atas hal lain yang ada disekeliling.

Ia yang masih sempat untuk membersihkan “motor” lain di sebelahnya.

Pada kenyataannya, bahwa tak jarang diri masih lalai terhadap sekitar.

Sulitnya untuk berhenti sejenak dari pekerjaan..

Menatap sekeliling dan membenahi apa yang tidak semestinya..

Membersihkan noda-noda yang menempel, entahkah itu noda yang menempel pada orang asing di dekat kita, atau terutama pada saudara-saudara di dekat kita.

Sungguh, seringkali ini bukanlah hal yang mudah.

Aduh rasanya serius sekali ya…

Kejadian satu di salon bersama Si Mas pencuci motor, mengingatkan kembali saya pada sebuah kalimat, bahwa dalam bersyukur kepada Allah atas nikmat yang Ia limpahkan, selain mengucap syukur dan hamdalah, masih ada tugas lagi bagi kita, yaitu :

Bekerja Bersungguh-Sungguh” ,

Bukankah berkerja dengan penuh kesungguhan, menunjukkan bahwa kita mensyukuri nikmat yang kita dapatkan, dan memanfaatkan sebaik mungkin nikmat yang Ia berikan.

Bahwa bentuk syukur yang paling tinggi itu ialah dengan ‘Bekerja Bersungguh-Sungguh

 

∞∞∞∞

Mencoba belajar memetik bunga

Memetik bunga hikmah yang terselip dari ranting-ranting kecil di sekeliling,

Bunga yang sebenarnya terlihat oleh kasat mata, namun seringkali tak tampak oleh mata hati.

Note :

Maaf ya jika membosankan, hanya mencari cara untuk membersihkan blog, yang rasanya sudah karatan karena tak jua diisi, plus menunggu kantuk yang belum jua sudi menyapa mata.

Author: my BlOg my Real

I'm a bird, I'm a flower, I'm a stone but the real, I'm a human slave of Allah, Inoy Trisnaini, itu namaku. Sudah terlalu banyak komentar tentang nama ini, ada yang mengatakan aneh,unik,lucu,bagus bahkan ada pula yang mengatakan jelek so what ?? it's my name. Mak, aku ialah hamba Allah dengan segala kekurangan dan kelebihanku. aku hanya seorang manusia biasa yang tengah berjuang untuk menjadi bukan manusia biasa, just do the best that I can do.

2 thoughts on “Sepetik Bunga Terselip di Salon

  1. Hmm.. Sdh lamo dk posting noy..
    Tp bolelah.. Judulny bner2 trsirat dg isi.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s