My Blog My Real

Sebuah Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi

Tanah Rantauku Tersayang, Tanah Halamanku Tercinta…

2 Comments

Saat hanya  tinggal 10.000 rupiah di kantong

Tak jarang, orang-orang yang tahu tentang beasiswa yang saya dapat akan mengatakan “ waah beruntung ya “ atau “enak ya” atau dalam bahasa yang lebih to the point “ enak donk kalau gitu tinggal terima duit tok”

OK, atas semua komentar itu saya katakan ” YA ”

Kalian benar sekali, atas segala kebaikan dan kekurangan yang tentunya juga ada, selalu mampu membuat saya teringat dan menggumamkan firman Allah :

“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan” Sungguh atas itu semua, sedemikan saya rasakan bentuk limpahan nikmat dan curahan kasih sayang dari Allah. Betapa rasa syukur yang sungguh tak seberapa ini, justru berbalas nikmat yang sungguh tak terhingga dari Allah (aduh jadi malu….)

Tapi tahukah engkau duhai kawanku, inilah hidup, seperti perkataan orang-orang (meski tak jelas orang yang mana??), layaknya makanan, jika hanya serba manis, seperti kue yang memang sudah terasa manis, dilapis dengan selai coklat yang manis, lalu ditaburi dengan gula dan susu yang tentunya juga manis, dan sentuhan terakhirnya yang menambah dramatis,  ditaburi lagi dengan mesis coklat yang sooooo pasti manis

So, what do you think about this cake ? so sweeeeeeeet, atau bahasa sehari-harinya ENEK euy, rasanya syaraf-syaraf di mulut berdenyut-denyut menahan manisnya yang tak tertahankan, ditambah lagi jika orang yang memakannya juga manis, seperti penulis blog ini,he…

Maka, begitulah juga dengan hidup ini, seperti perkataan orang-orang lagi, jika hanya manis-manis saja maka bisa membuat enek atau terasa membosankan. Bahwa diawal-awal saya menapaki jalan hidup di kota ini, Kota dengan lambang perpaduan antara Buaya dan Hiu, saya akhirnya kembali merasakan bagaimana hidup dengan kantong kembang kempis.

Uang beasiswa yang tidak juga turun, dan tidak juga ada kepastian kapan benar-benar akan dicairkan, karena masalah birokrasi. Biasaa, beginilah ruwet jalur birokrasi di negara tercinta nan kaya raya ini, meski tak suka, tapi mau bagaimana lagi, karena kenyataannya saya yang membutuhnya. Ditunjang lagi uang kiriman dari orang tua yang tidak ada, karena saya memang bertekat sekuat tenaga, untuk tidak lagi merepotkan orang tua dalam hal keuangan selama menuntut ilmu di tanah Jawa ini.

Didukung dengan honor mengajar les yang juga sudah habis terpakai untuk keperluan hidup dan kuliah. Saya  juga mencoba mengajar les privat untuk membantu keuangan, meski tak seberapa, tapi setidaknya cukup untuk mengisi perut dan pulsa. Sedangkan untuk meminjam uang dengan sahabat karib senasib-seperjuangan, yang sama-sama merantau dari sumatera selatan, rasanya masih menimbulkan keengganan di hati saya, meski jika saya mau, cukup dengan mengatakan saja, ia pasti akan langsung meminjamkan. Tapi, cukuplah diri ini yang sulit, tak perlu merepotkan orang lain lagi, plus karena malu juga sudah beberapa kali terpaksa meminjam dengannya,he…

Sebenarnya masih tersisa uang di tabungan, yang jika saya ketik nomimal 100.000, maka mesin akan protes “Uang anda tidak mecukupi untuk melakukan penarikan” . tetapi, jika saya ketik angka separuh dari nominal yang sebelumnya, barulah mesin ATM itu tampak mulai bersedia mengeluarkan isinya.

Namun, harapan tinggal harapan, bahwa ternyata uang itupun juga tidak bisa ditarik karena ada perbaikan system.

aduuh alasan macam apa ini, dan tanpa kejelasan kapan uang itu bisa saya ambil, ayolaaah, meski nominalnya tak seberapa, tapi uang itu sangat bernilai bagi saya, terutama pada saat itu.

Alhasil hari itu saya pulang dari kampus dengan lunglai, sembari mengendari sepeda motor, di sepanjang perjalanan otak terus berpikir, dari mana ya bisa dapat uang lagi ?? minimal untuk beberapa minggu atau bahkan beberapa hari ini saja.

Tapi…Allah sungguh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang  duhai kawan, karena rezeki itu datang dari tempat yang tidak disangka-sangka..

Esoknya, saat saya dan beberapa orang teman, pergi ke salah-satu kegiatan yang berkaitan dengan perkuliahan, maka seusai kegiatan, atas inisiatif salah-seorang teman, kami akhirnya mampir ke salah-satu tempat makan yang direkomendasikan olehnya. Namun saat itu, yang terpikirkan oleh saya ialah, berapa  ya kira-kira harga makanan ini ??

Karena pada saat itu, hanya ada uang 5000 rupiah yang terselip manis di dalam dompet saya. Tapi saat itu, saya berpikir praktis saja, weis yang penting makan dululah, urusan gimana bayarnya nanti, ya urusan nanti.

Satu sendok… dua sendok…tiga sendok…dan sendokan sendokan berikutnya,  hingga akhirnya tandaslah isi di dalam piring, berpindah ke dalam perut yang tak lagi kosong. Begitu akan membayar, dan menanyakan berapa harga makanan itu, ternyata salah-seorang teman saya, yang memang  telah memiliki pekerjaan tetap,  menyertakan pula tagihan makanan kami ke dalam bayarannya

Tahukah dirimu duhai sahabatku, bahwa itu sangat membantuku saat itu. Satu bantuan dari Allah yang tampak di mata, sebab,  setelah saya sempat menanyakan harga makanan tersebut, ternyata harganya jauh di atas dari jumlah uang yang masih tersimpan di dompet saya, fine.. yang penting urusan bayar-membayar sudah beres.

Sorenya, saya sempatkan untuk mampir ke kantor tempat saya mengajar les private, dengan tujuan hanya satu, yaitu menukar absen mengajar yang lama,  dengan absen yang baru, hanya itu. Setelah mengobrol panjang lebar dengan ibu pimpinan bimbel, beliau ternyata menawarkan saya untuk mengajar di tempat yang lain pula, dan tentunya saja saya setujui saat itu juga, sebab, itu berarti akan ada tambahan masukan untuk saya.

Allah pertolonganmu datang lagi, ditambah lagi bahwa ternyata ada honor mengajar yang terlewatkan dari perhitungan saya,  yang berarti belum saya ambil.

Ya Allah, begitu cepat bantuanmu datang lagi. Maka sore itu, saya pulang ke kosan dengan tidak lagi hanya mengantongi uang 5000 rupiah, setidaknya bertambah untuk bertahan hidup selama 1 minggu.

Sesampainya di tempat kos, melihat tumpukan buku yang agak kurang sedap dipandang mata, sebagai efek samping mengerjakan tugas kuliah di malam sebelumnya, maka saya sempatkan terlebih dahulu membereskannya, dan sembari membolak-balik buku-buku yang terlihat mulai berdebu.

Pada saat itulah dengan adegan slow motion, tiba-tiba beberapa lembar uang berwarna biru terjatuh dari dalam tumpukan buku,

oh Tuhan apa ini???

Saya yakin, seyakin-yakinnya, bahwa ini bukan uang monopoli, karena seumur hidup saya tidak pernah punya permainan itu (kasihannya ‘_’! ), dan setelah memastikan bahwa uang itu memang milik saya, maka segera saya gunakan untuk membayar keperluan kuliah yang sempat tertunda, duuh leganya.

Sungguh, apa yang saya ceritakan ini, hanyalah segelintir dari tak terhingganya nikmat, yang Allah curahkan selama saya hidup di tanah rantau ini. Inipun barulah nikmat yang mampu saya rasakan, belum lagi nikmat yang tidak mampu saya sadari, bahkan tak mampu bagi saya untuk melihatnya sebagai nikmat, jauh..jauh…jauh lebih tak terhingga lagi tentunya nikmat-nikmat itu.

Kemudahan-kemudahan dalam urusan, rezeki-rezeki yang tak terduga, dan tentunya orang-orang yang satu-persatu hadir dan mengisi hidup saya, selama menghembuskan nafas di kota ini.

Mereka, bukan hanya orang-orang yang luar biasa baik, namun, juga orang-orang yang senantiasa mengajak saya ke dalam kebaikan, meski tak kuasa saya pungkiri, bahwa mereka tetaplah bukan seorang malaikat, yang tak selalu mampu berbuat baik.

Pun saya sendiri merasa belum juga mampu memberikan sesuatu kepada mereka, sekedar sebagai bentuk syukur pada Allah, akan nikmat yang ia berikan dalam wujud mereka, mereka orang-orang yang hadir dalam hidup saya.

Selalu saya ingat kalimat ini “Merantaulah, maka akan engkau dapatkan pengganti kerabatmu”

Namun jujur, semakin saya menyukai tanah rantau ini, semakin pula saya mencintai tanah halaman saya,

Semakin saya betah dan kerasan hidup di kota orang, semakin pula saya merindukan kota asal saya.

Maka, semakin saya berusaha menyayangi saudara-saudara saya di tanah perjuangan ini,

Semakin pula saya mencintai dan merindukan keluarga di pulau sebrang sana.

 

Dentingan dawai hati yang tengah merindu….

I can’t find excuse to give up !!!

Bahwa sungguh, apa yang saya rasakan ini, tak ada seujung kuku dengan perjuangan sahabat-sahabat,

Para pengejar mimpi di belahan bumi lain.

Author: my BlOg my Real

I'm a bird, I'm a flower, I'm a stone but the real, I'm a human slave of Allah, Inoy Trisnaini, itu namaku. Sudah terlalu banyak komentar tentang nama ini, ada yang mengatakan aneh,unik,lucu,bagus bahkan ada pula yang mengatakan jelek so what ?? it's my name. Mak, aku ialah hamba Allah dengan segala kekurangan dan kelebihanku. aku hanya seorang manusia biasa yang tengah berjuang untuk menjadi bukan manusia biasa, just do the best that I can do.

2 thoughts on “Tanah Rantauku Tersayang, Tanah Halamanku Tercinta…

  1. kangeeen sama mbak inoy dan mbak fera T__T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s